Lestarikan Budaya Jawa, SMP Negeri 3 Sentolo Adakan Ekstrakulikuler Karawitan

Minggu, 13 Januari 2019 01:16:09 - Oleh : Dinas Dikpora Kab. Kulon Progo
 

Kamis (10/1/2019), Dalam rangka memperkenalkan Budaya Jawa dan menanamkan pendidikan karakter bangsa kepada para siswa maka, SMP Negeri 3 Sentolo bekerjasama dengan Kepala Desa Kaliagung Bapak Suwito, serta kelompok paguyuban kesenian Marsudi Laras Lestari pimpinan Bapak Puji Sarmanto dari Dusun Banyunganti Lor, Desa Kaliagung menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler karawitan kepada siswa siswi SMP N 3 Sentolo. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Desa Kaliagung karena SMP N 3 Sentolo sendiri belum mempunyai perangkat gamelan yang dibutuhkan untuk latihan kegiatan ekstra tersebut dan Desa Kaliagung sebagai rintisan Desa Budaya baru saja mendapat bantuan seperangkat gamelan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo.

Bapak Suwito berharap kepala sekolah SMP N 3 Sentolo Drs. Sudaryanto untuk menggunakan gamelan tersebut sebagai sarana memperkenalkan dan melestarikan seni karawitan kepada para siswa sehingga, budaya Jawa yang mempunyai nilai-nilai luhur tidak hilang tergilas oleh budaya asing yang tidak sesuai dengan kearifan lokal. Kepala Sekolah SMP N 3 Sentolo menyambut baik dan segera mengirimkan sejumlah siswa kelas 7 dan 8 yang berminat mengikuti kegiatan tersebut yang dimulai Kamis, 10 Januari 2019 dan selanjutnya setiap hari Kamis. Kegiatan tersebut dimulai pukul: 14.00 – 16.00 namun karena para siswa sangat antusias buntuk bermain gamelan kegiatan kemarin berakhir sampai pukul 16.30.

Seni Karawitan tidak bisa dilepaskan dari budaya Jawa keduanya seperti dua sisi mata uang yang berbeda, ada budaya jawa maka ada seni karawitan. Karena dalam seni karawitan terkandung filosofi dan budaya jawa, baik dari segi pakaian, perilaku dan tutur kata. Untuk tampil bermain gamelan secara resmi maka penabuh atau pengrawit harus memakai pakaian tradisional jawa lengkap untuk pakian putra memakai bebed, surjan blangkon dan keris, putri memakai kebaya, jarit dan sanggul. Kemudian dari segi perilaku maka penabuh harus duduk bersila dan tidak boleh menabuh sembarangan atau memukul instrumen gamelan sekeras kerasnya seperti memainkan band. Demikian juga dalam bertutur kata atau nembang tidak boleh berteriak sekeras kerasnya harus mengikuti irama gamelan. Dalam hal ini kesenian gamelan atau karawitan sudah memberikan pendidikan karakter untuk sabar sopan dan santun. Gamelan dimainkan oleh 10-15 orang penabuh yang masing-masing mempunyai alat musik yang berbeda namun semuanya dapat dipadukan menjadi sebuah orkestra yang indah dan harmonis. Ini mengandung filosofi Bhinneka Tunggal Ika, meskipun berbeda beda tetapi tetap satu jua. Karakter ini sangat penting ditanamkan kepada anak anak didik kita supaya mereka bisa menghargai perbedaan, toleransi dengan orang lain dan dapat bekerjasama secara harmonis sehingga menghasilkan karya yang indah dan bermanfaat untuk semuanya. Demikian kurang lebih filosofi yang terkandung dalam permainan gamelan.

Semoga dengan mengenal dan mendalami budaya Jawa khususnya melalui seni karawitan anak didik kita akan lebih halus budi pekertinya, lebih sabar, sopan dan santun serta lebih toleransi kepada sesama sehingga akan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

« Kembali | Kirim | Versi cetak

 Komentar Via Facebook