Mengelola Sekolah Berbasis Gerakan Sekolah Menyenangkan "GSM"

Rabu, 6 Februari 2019 16:21:53 - Oleh : Dinas Dikpora Kab. Kulon Progo
 

Era disrupsi saat ini memerlukan ketrampilan dan kemampuan luar biasa bagi generasi muda dan juga semua kita untuk menghadapinya. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sangat cepat, mengharuskan kita untuk selalu berlari dan berlari untuk tidak tertinggal jauh.

Pendidikan, adalah ujung tombak perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Pendidikan yang bermutu akan menghasilkan peserta didik yang berkualitas tinggi, sebaliknya jika pendidikan kualitasnya rendah, sangat dimungkinkan juga akan menghasilkan peserta didik yang kurang berkualitas. Salah satu alternatif untuk menghadapi dan menyiapkan generasi berkualitas yang mampu menghadapi era disrupsi seperti saat ini adalah dengan mengelola sekolah berbasis GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan).

Apakah GSM?

GSM, merupakan gerakan sosial yang bergerak dari akar rumput untuk memberikan pelayanan kepada peserta didik sesuai dengan harkat dan martabatnya. GSM memberi ruang yang luas kepada peserta didik untuk memperoleh pengetahuan (kognitif), ketrampilan psikomotorik, ketrampilan sosial, emosi dan juga memberikan lingkungan positf untuk belajar.

Pada sekolah yang berbasis GSM, selalu diupayakan untuk memberikan lingkungan belajar yang positif dan menyenangkan baik di sekolah, di rumah, di luar kelas, maupun di dunia maya yang sudah menjadi kebutuhan di era sekarang ini.

Mengapa sekolah harus menyenangkan?

Tujuan pendidikan Indonesia, adalah menciptakan peserta didik yang sehat jiwa raga, produktif dengan kompetensi dan karakter yang baik., namun kondisi darurat pendidikan masih menunjukkan pencapaian tujuan tersebut perlu proses yang panjang. Kondisi darurat tersebut antara lain dapat dilihat pada standar pelayanan minimal sekolah, 75% masih belum memenuhi standar minimal. Selain itu juga dapat dilihat dari hasil rata-rata perolehan uji kompetensi guru yang baru mencapai 44,5 dari standar miniml 70. Kondisi inilah yang menurut founder GSM, yaitu Bapak Muhammad Nur Rizal, S.T, M. Eng., PhD dan Ibu T. Novi Poespita Chandra, M.Si melatarbelakangi GSM menjadi kebutuhan wajib. Problem personal maupun problem sosial yang masih banyak dialami masyarakat Indonesia juga menjadi alasan lainnya. Dengan GSM maka peserta didik akan mendapatkan pelayanan maksimal dalam hal tumbuh kembang dan pencapaian kompetensinya.

Peserta didik adalah insan mulia yang diamanahkan orang tua kepada sekolah. Dengan alur pemikiran seperti itu, maka seyogyanyalah sekolah merupakan rumah kedua bagi peserta didik. Keberadaan peserta didik yang durasinya panjang di sekolah, mengharuskan sekolah untuk menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi siswa. Konsep menyenangkan di sini bukan berarti anak senang tidak belajar dan senang sesuai kebebasannya. Konsep senang di sekolah adalah belajar dan melaksanakan tata tertib sekolah dengan hati senang.

Kondisi sekolah yang menyenangkan bagi peserta didik inilah yang harus bersama-sama diciptakan oleh semua warga sekolah. Kondisi ini dapat diciptakan manakala peserta didik mendapat perlakuan yang memanusiakannya. Perlakuan yang memanusiakan manusia inilah yang akan menjadikan peserta didik merasa dihargai dan mendapat kesempatan mengembangkan potensi secara maksimal. Dengan demikian akan terjadi pertumbuhan dan penguatan karakter pada diri peserta didik.

Penumbuhan karakter (character development) dapat dilakukan melalui aktifitas fisik dan non fisik meliputi: olah raga, olah pikir, olah rasa dan olah laku. Sejalan dengan program pemerintah dengan upaya menguatkan karaktrer nasional, religiusitas, nasionalisme, gotong royong, kemandirian dan integritas.

Upaya membangun sekolah menjadi sekolah yang menyenangkan dapat dilakukan secara bertahap. Karena akan mencakup semua ranah baik fisik maupun psikhis, maka penciptaannya juga tidak bisa berjalan serta merta. Beberapa tahap yang mesti dilalui meliputi: 1). Merubah mindset, dari sekolah yang memberikan penekanan pada peserta didik menjadi sekolah yang merangkul dan membersamai aktifitas peserta didik, 2) Penciptaan lingkungan belajar yang positif, yaitu lingkungan sekolah yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar, 3). Lingkungan fisik yang positif, yaitu lingkungan fisik sekolah yang di semua titik memberi ruang kepada peserta didik untuk dapat menjaga eksistensi dan mengembangkan potensi tanpa rasa takut dan rasa tidak enak lainnya. 4) Pembelajaran yang menyenangkan, artinya kegiatan pembelajaran berlangsung secara dua arah dan memberi ruang kepada peserta didik untuk terlibat dan menentukan bagaimana pencapaian tujuan pembelajarannya. Pembelajaran yang demikian hanya terjadi jika guru tidak lagi mendominasi kegiatan pembelajaran, melainkan peserta didiklah yang menjadi berperan penuh pada aktivitas pembelajarannya. Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang menantang, memberi ruang pada peserta didik untuk eksplorasi ilmu pengetahuan, berbudaya dan mendasarkan pada kompetensi peserta didik, penilaiannya bersifat otentik dan mendasarkan pada potensi yang dimiliki peserta didik. 5). Pelibatan secara penuh orang tua/ wali peserta didik dan juga komunitas dalam penyusunan program dan pencapaian program sekolah yang menyenangkan. Hal ini bisa ditempuh dengan program kelas inspirasi yang melibatkan orang tua peserta didk yang mempunyai keahlian tertentu. Juga dapat ditempuh dengan program parent teaching, di mana orang tua dengan profesi tertentu diminta membagi ilmunya kepada peserta didik.

Pada pengelolaan kelas, dapat dilakukan dengan penciptaan zona-zona yang disepakati dan ditata oleh peserta didik dengan bimbingan guru atau wali kelas. zona-zona tersebut antara lain adalah; 1). Zona kehadiran, yang pada zona tersebut dapat terdeteksi secara baik tentang urutan kedatangan peserta didik di sekolah. Zona ini akan mendorong peserta didik untuk berlomba datang di sekolah lebih awal dan tidak akan terlambat.2). Zona baca (pojok baca), adalah area di dalam kelas yang memberi ruang pada peserta didik untuk mendapatkan akses pengetahuan dan ketrampilan melalui kegiatan membaca di luar perpustakaan. 3). Zona harapan, baik harapan anak maupun harapan orang tua. Pada zona ini, peserta didik diberi ruang untuk menuliskan harapannya sehingga dapat melakukan kontrol terhadap dirinya untuk menuju harapan yang sudah dituliskannya. Demikian juga dengan harapan orang tua/ wali peserta didik. Dan masih banyak zona lainnya yang dapat dibuat sesuai dengan hasil kreatifitas dan inovasi kelas masing-masing.

Dengan berbagai upaya tadi, maka akan terjadi sinergitas yang kuat antara sekolah dengan peserta didik, dengan orang tua/ wali peserta didik dan juga dengan dunia industri maupun dengan komunitas masyarakat lainnya. Kondisi demikian akan makin memperkuat eksistensi peserta didik dan akan memberi ruang yang luas kepada peserta didik untuk mencapai harapan dan cita-citanya. Nilai dan prestasi akademis lainnya tidak menjadi satu-satunya yang dikejar, melainkan lebih pada bagaimana upaya menumbuhkan karakter positif siswa sehingga mampu menghadapi tantangan pada zamannya.

Semua perlu proses yang panjang dan terus menerus, namun jika tidak dimulai dari sekarang maka ketertinggalan bangsa kita akan semakin jauh dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

Semoga tulisan sekelumit ini bermanfaat.

 

Oleh : Sri Harini, S.Pd. (Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Girimulyo)

 

 

« Kembali | Kirim | Versi cetak

 Komentar Via Facebook