Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Kulon Progo
Rubrik : Inklusi
KEKUATAN CINTA GURU DAN PENDIDIKAN INKLUSIF
2016-08-11 20:37:14 - by : dian



KEKUATAN CINTA GURU DAN PENDIDIKAN
INKLUSIF


DITULIS OLEH: DRS. Y. PRIYONO PASTI


 


AMOR
mundum fecit. Cinta itu menciptakan dunia. Amor vincit omnia. Cinta itu
mengatasi segala-galanya. Cinta adalah senjata yang paling ampuh saat
menghadapi situasi kritis dan kondisi darurat. Guru yang memiliki kekuatan
cinta membuatnya mampu bertahan menghadapi gempuran kegersangan budi
pekerti (moralitas) dan kebangkrutan spiritual nya.


Sebagai
guru, di tengah persoalan yang multidimensional, di tengah dekadensi akhlak
(moral/budi pekerti)  yang semakin mengkhawatirkan, di tengah turbulensi
zaman dengan berbagai implikasinya saat ini, di tengah aneka ragam perilaku
anak yang menyebalkan, guru sungguh dituntut untuk menjadi guru yang memiliki
kekuatan cinta.


Negeri
ini membutuhkan guru yang memiliki kekuatan cinta dan pendidikan yang inklusif.
Pendidikan yang  menjadi sumber kegembiraan dan kegairahan siswa dalam
belajar. Pendidikan yang menjadi pusat kehidupan para siswa. Mereka benar-benar
menikmati kehidupan yang ada di sekolah.  Di jagat pendidikan yang
inklusif, proses pembelajaran bukan lagi menjadi beban melainkan realitas
kehidupan yang mereka jalani dengan penuh penghayatan.


Di
jagat pendidikan yang inklusif, kehidupan dihadirkan dalam sebuah tata ruang
dengan lanskap yang ditata sedemikian rupa agar tetap natural dan tampak riil.
Dengan menggunakan konsep fun and active learning, pendidikan yang inklusif
 mengubah sekolah menjadi sebuah miniatur kehidupan yang tidak saja
natural dan riil, tetapi juga indah dan nyaman.


Proses
belajar-mengajar berubah menjadi aktivitas kehidupan riil yang dihayati dengan
penuh kegembiraan. Para siswa dibantu untuk menikmati masa-masa awal
pertumbuhan dan membangun imaji-imaji positif mereka tentang kehidupan dan bumi
yang mereka huni. Itulah karakteristik dan pesona pendidikan yang inklusif.
  


Di
jagat pendidikan yang inklusif, setiap guru percaya bahwa setiap individu itu
unik. Pun mereka yakin setiap anak itu pandai. Setiap anak dilahirkan 
sebagai anak pandai dengan cara yang mungkin berbeda antara anak yang satu
dengan lainnya. Karena itu, memperlakukan setiap anak dengan segala keunikannya
adalah  prinsip utama pendidikan yang inklusif.


Pendidikan
inklusif adalah “sekolah kehidupan” itu sendiri. Pendidikan yang memberi
“pelajaran kehidupan”. Pendidikan yang membangun kemampuan-kemampuan dasar pada
anak untuk mampu bertahan dan bertumbuh dalam setiap situasi, menjadi proaktif
dan adaptif, bukan sekadar mengejar nilai angka (rate). Pendidikan yang
melahirkan pemimpin yang cerdas dan punya integritas, bukan mencetak calon
pengangguran. Pendidikan yang menyenangkan, tidak mengekang. Pendidikan yang
mendidik anak menjadi manusia berkarakter, bukan beo-beo pengekor. Pendidikan
yang membebaskan siswa dari penindasan, pemiskinan, dan pembodohan menuju
manusia mandiri dan bertanggung jawab.


Pendidikan
inklusif menawarkan pegangan kehidupan yang permanen berupa nilai-nilai
keutamaan hidup, keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai agama, ajaran tentang
asal-usul manusia, tentang tujuan hidup manusia, tentang nilai-nilai yang
membimbing hidup manusia, dan tentang faktor-faktor permanen yang membentuk
kualitas hidup manusia.


Di
jagat pendidikan yang inklusif, para siswa, tunas muda belia bangsa ini belajar
secara serius tentang nilai-nilai keutamaan hidup, yang diyakini membuat mereka
bertumbuh, berkembang, dan mekar mewangi pada pusat kehidupan yang benar dan
pasti. Dan di sanalah, dijagat pendidikan yang inklusif itu optimalisasi diri
dan kebahagiaan hidup menanti.


Guru
adalah pelaku utama pendidikan (formal). Tugas guru adalah membantu menyalakan
lentera pada jiwa-jiwa siswa. Keberadaan guru adalah membawa terang
(pencerahan-percerdasan), membawa kebijaksanaan, membawa semangat untuk maju
dalam hidup. Fungsi strategis guru adalah membuka mata (hati), membersihkan
telinga, menguatkan penciuman (caring), dan membersihkan pikiran para siswanya.
Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa
penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang
membuahkan penciuman. Pikiran tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.


Dan
itu hanya akan terwujud manakala gurunya memiliki kekuatan cinta. Guru yang
mendampingi siswa dengan kepala dan hati sekaligus. Guru yang mengorbankan diri
sendiri guna menerangi jalan kebahagiaan bagi para siswanya. Guru yang berusaha
memahami sisi terang maupun sisi gelap karakter siswanya. Guru yang sungguh
memahami esensi pendidikan membuat siswanya menjadi lebih baik dan berperilaku
terpuji.


*Penulis
Seorang Pendidik, Alumnus USD Yogyakarta, Humas SMP santo F Asisi, Tinggal di
Kota Pontianak.


 


(Sumber: http://www.pontianakpost.com/kekuatan-cinta-guru-dan-pendidikan-inklusif).

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Kulon Progo : http://pendidikan.kulonprogokab.go.id
Versi Online : http://pendidikan.kulonprogokab.go.id/article/338/kekuatan-cinta-guru-dan-pendidikan-inklusif.html