Dinas Dikpora Riuh oleh Penggerak Pendidikan

Senin (9/3), ruang rapat Srikandi (Lantai 1 Dikpora Kulon Progo Unit 1) riuh sejak pukul 09.00 hingga 12.00. Rupanya, Kepala Dikpora Kulon Progo (Sumarsana, M.Si) mengundang sejumlah penggerak pendidikan untuk melakukan Forum Group Discussion (FGD) pada rapat kegiatan yang bertajuk “Evaluasi Program Inkubasi Sekolah Literasi Indonesia Kulon Progo”.

Adapun tamu undangan pada FGD tersebut antara lain Kepala Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo, Kepala Cabang Dompet Dhuafa Yogyakarta beserta jajarannya, Sekretaris Dinas, Kepala Sub Bagian Perencanaan, Kepala Bidang Pembinaan SD, Kepala Seksi Kurikulum dan Penilaian SD, Pengawas Lingkup Kapanewon Wates, Pengasih, dan Sentolo, konsultan relawan Sekolah Literasi Indonesia (SLI), serta 7 Kepala Sekolah Dasar dan 3 Kepala Madrasah Ibtidaiyyah penerima manfaat program SLI.

“Menyatu.. menyatu.. Luar Biasa! Menyatu.. menyatu Istimewa!” jargon SLI Kulon Progo menggema ketika konsultan relawan SLI (Irfa Ramadhani)—selaku perwakilan Dompet Dhuafa Pendidikan dan Dompet Dhuafa Yogyakarta—menyampaikan pemaparan perjalanan SLI Kulon Progo. Pemaparan dan diskusi berlangsung santai dan penuh tawa (namun tetap serius) hingga akhir acara.

Rapat kegiatan ini diinisiasi langsung oleh Kepala Dinas Dikpora (Sumarsana, M.Si) secara mendadak pada beberapa hari sebelum hari-H. Ia berharap dapat lebih mengetahui perjalanan proses pendampingan SLI.

Selain itu, pertemuan tersebut juga diharapkan untuk menguatkan implementasi hasil pelatihan di sekolah/madrasah terdamping, sebagaimana disampaikan secara langsung pada FGD oleh Eko Teguh Santosa, S.Pd.  (sekretaris dinas, mewakili kepala Dikpora) kepada para kepala sekolah penerima manfaat SLI, “saya pesan khusus kepada para kepala sekolah agar bisa menggerakkan yang lainnya, sekolah itu kuncinya njenengan”, ungkap Eko.

Di samping itu, forum yang dipandu oleh kepala sub bagian perencanaan (Dian Putera Karana, S.Pd., M.Pd.) tidak hanya berjalan penuh tawa, tetapi juga mengharu ketika pengawas kapanewon Wates (Dra. Siti Hibanah, M.Pd.) menyampaikan pernyataannya, “Baru sedikit saya mengikuti beberapa kegiatan di sekolah binaan SLI. Pertama, saya ucapkan terima kasih. Ini adalah kesempatan yang sangat luar biasa dan sangat merasa gembira karena sekolah-sekolah itu mendapatkan manfaat dari program ini. Saya melihat banyak sisi positifnya. Semangat kepala sekolah menjadi luar biasa. Tolong kalau ada kesempatan, mohon pertajam lagi kemampuan kepala sekolah dan guru-guru”, pesan pengawas kepada tim SLI.

Bu Hib (sapaan akrabnya) melanjutkan pemaparannya kepada seluruh peserta diskusi, “Saya garis bawahi, mereka konsisten pada setiap langkahnya. Itu yang luar biasa. Saya rasane pengen nangis”. Sontak penyampaian dari pengawas tersebut juga memunculkan riuh haru dari seluruh peserta diskusi.

Santai, penuh tawa, dan mengharu. Ada dua kata istimewa yang ‘mungkin’ menjadi kata kunci FGD Senin Wage. “Terima kasih”. Dua kata yang entah berapa kali diulang oleh peserta yang berbeda. Kepala Dikpora, kepala Kemenag, kepala Dompet Dhuafa Yogyakarta, Konsultan Relawan, pengawas, para kepala sekolah, dan peserta diskusi lainnya. Mereka saling menyampaikan “terima kasih”. Inilah dua kata indah yang mendongkrak keindahan sinergitas peningkatan mutu pendidikan Kulon Progo.

Siap-siap, jangan sampai terlewat. Semoga keindahan (dari manfaat zakat) ini juga dapat segera dirasakan oleh sekolah ataupun masyarakat lain secara lebih luas.

Saat ini, keluarga SLI Kulon Progo tengah mempersiapkan datangnya keluarga baru. Pada FGD Senin Wage, beberapa kapanewon Kulon Progo (selain Wates, Pengasih, dan Sentolo) telah dipilih sebagai penerima manfaat SLI semester 2. Ikuti terus rilis kegiatannya di website Dikpora Kulon Progo atau pada website: www.makmalpendidikan.net, www.jogja.dompetdhuafa.org; instagram: @sekolahliterasi_id, @pendidikan_ddjogja, @ramadhaniirfa; dan facebook: Sekolah Literasi Indonesia.

Oleh: Irfa Ramadhani Konsultan Relawan SLI Kulon Progo