SDN 2 Sentolo: Gerakan Menjaga Cita-Cita, Indonesia Bisa!

Setiap orang memiliki cita-cita, ada yang terwujud, banyak juga yang tidak. Bahkan pada perjalanannya, cita-cita di masa kecil seringkali berubah-ubah. Tidak apa-apa, ternyata itu biasa, yang penting anak-anak memiliki cita-cita. Selanjutnya, pentingnya cita-cita bagi anak ini dikupas tuntas dalam pelatihan Gerakan Ayo Bercita-cita (GAB).

Setelah melalui berbagai pelatihan dari Dompet Dhuafa Pendidikan (DD Pendidikan) dan Dompet Dhuafa Yogyakarta (DD Jogja) pada program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) sejak bulan Desember tahun lalu, kali itu SDN 2 Sentolo berkesempatan menjadi tuan rumah pelatihan GAB. Pelatihan yang dilaksanakan pada hari Jumat (21/2) ini bukan hanya dihadiri oleh 10 sekolah/madrasah penerima manfaat program SLI, tetapi dihadiri pula oleh 4 sekolah/madrasah lain penerima manfaat program Inspiring Library DD Jogja.

Rina Fatimah, M.Si (Manager Program Pendidikan DD) memulai materi pelatihannya dengan menyampaikan permasalahan kenakalan remaja, seperti pergaulan bebas, klithih, narkoba, LGBT, dan sebagainya. Ternyata masalah-masalah kenakalan remaja tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu tidak memiliki cita-cita dan tujuan yang jelas, pendididikan agama yang kurang, pola asuh orangtua yang kurang baik, arus globalisasi, serta pergeseran nilai negatif. Rina melanjutkan, ternyata salah satu penyebabnya adalah mereka “tidak memiliki cita-cita dan tujuan yang jelas”.

Begitulah pentingnya sebuah cita-cita. Cita-cita dapat mempertajam titik fokus seseorang dalam menentukan tujuan hidupnya. Rina juga menyampaikan bahwa tujuan Gerakan Ayo Bercita-cita pada 3 lingkup, yaitu mencegah anak bermasalah, mempermudah anak menuju sukses, serta menyemai generasi hebat. Lalu, bagaimana dengan cita-cita anak didik kita?

SDN 2 Sentolo (kelas 5) telah berupaya melakukan implementasi GAB melalui program “SMS Bercita-cita” sebagaimana yang disampaikan oleh pemateri pelatihan. SMS adalah singkatan dari Sepuluh Menit Sepekan. Pada pertemuan pertama, pendidik dapat menerapkan SMS Bercita-cita ini dengan memberikan motivasi kepada siswa, menceritakan kisah inspiratif, menceritakan tokoh inspiratif, menceritakan dongeng nusantara, serta menggali nilai-nilai budi pekerti dalam waktu 10 menit.

Pertemuan selanjutnya, siswa dapat diajak untuk menuliskan atau membuat buku cita-cita. Ini adalah buku gambar khusus untuk menuliskan cita-citanya, mulai dari gambar simpel sampai gambar detail. Untuk membiasakan siswa berbicara di depan umum, siswa juga diajak untuk menceritakan cita-citanya di depan kelas, kegiatan ini juga dialokasikan dalam waktu 10 menit. Jadi setiap siswa dapat bergiliran menceritakan cita-citanya.

Jumat menjadi hari yang dipilih SDN 2 Sentolo dalam melakukan proses implementasi SMS Bercita-cita. Banyak hal yang menarik perhatian saya. Misalnya mengenai perbedaan cita-cita zaman dahulu dan sekarang. Ketika menyampaikan pertanyaan sekitar 6-5 tahun lalu dengan kalimat “apa cita-cita kalian?”, sebagian besar menjawab ingin menjadi guru, dokter, polisi, tentara, ataupun profesi-profesi umum pada zamannya. Sementara itu, jawaban anak didik saat ini lebih variatif. Tidak hanya Guru, dokter, polisi, ataupun tentara, tapi ada juga profesi unik lain.

Rifki dan Hestan cita-citanya menjadi youtubers, ada Keke yang ingin menjadi desainer, Bagas menjadi gamers profesional, Ian menjadi pengusaha, Dino dan Mario menjadi pegawai bank, Hana menjadi chef, bahkan ada Rafi yang ingin jadi pemancing karena hobinya mancing dan ingin seperti di Mancing Mania, “Mantap!”, tandas saya.

Masih banyak lagi profesi unik lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. “Ooo.. Ternyata cita-cita anak zaman sekarang memang beda, cita-cita  generasi milenial”, gumam saya.

Saya akhiri quote yang cantik dari bapak Soekarno ketika sesi penyampaian motivasi kepada anak “bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”. Intinya saya menyampaikan, “janganlah takut untuk bercita-cita, Nak!”. Jangan takut untuk bermimpi walaupun keadaan ekonomi keluarga sulit, lingkungan tak mendukung, dan faktor penghambat lainnya, semua pasti ada jalan selama kita mau berusaha. Sebagaimana lirik lagu laskar pelangi “mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia”.

Termasuk mimpi bersama kita saat ini, mampu melalui pandemi Covid-19. Tetap semangat untuk menggapai mimpi kita dan anak-anak didik kita lainnya. Indonesia bisa.

Oleh: Robiatun Khasanah, S,Pd (Guru kelas 5, SD Negeri 2 Sentolo)